KUASAKATACOM, Jakarta – Konferensi pers sukses digelar atas nama Gerakan Masyarakat Sipil Untuk Penghapusan Perkawinan Anak yang menunjuk Yayasan Plan International Indonesia sebagai penyelenggaranya pada Kamis (11/2) pukul 11.00 WIB di Zoom meeting.

Konferensi pers tersebut membahas kasus promosi perkawinan anak oleh Aisha Weddings, dan beberapa organisasi mengecam permasalahan perkawinan anak tersebut. Termasuk Nursyahbani Katjasungkana Ketua Pengurus Asosiasi LBH APIK.

Nursyahbani menyatakan bahwa pencegahan perkawinan anak menjadi kewajiban bersama yang harus dijalin semua macam lapisan masyarakat. Terutama adalah kewajiban utama pemerintah untuk melakukan pencegahan dan penegakan hukum yang ada.

Juga menjadi kewajiban dasar pemerintah untuk melakukan penghapusan semua bentuk gender stereotyping yang didukung oleh budaya dan juga ajaran agama.

Aisha Wedding juga dianggap menggunakan ajaran-ajaran agama yang sangat patriarkis, yang menempatkan anak-anak perempuan dan perempuan pada umumnya dengan promosi poligami sebagai objek seksual.

Salah satu poin kuat yang menjadi bahaya adalah perkawinan anak yang menjadi bentuk perbuatan pedofilia. Karena mempromosikan hubungan seksual dengan anak-anak perempuan walaupun dalam perkawinan. “Ini membahayakan sekali,” jelas Nursyahbani.

“Ini pedofilia, sudah jelas sebuah bentuk kampanye, instigasi untuk terjadinya pedofilia,” tandasnya.

Menurut Nursyahbani masyarakat mulai harus mengubah mindset. Selama ini angka pendidikan yang rendah di tingkat perguruan tinggi menunjukkan benarnya anggapan masyarakat yang menjadikan perempuan sebagai calon istri atau calon ibu saja.

Tidak hanya Aisha Weddings, tapi juga banyak komunitas lain yang menyebarkan dan menganjurkan kegiatan perkawinan berbau pedofilia di media sosial  termasuk Facebook. Masyarakat harus bergotong royong berkontribusi menghentikan promosi perkawinan anak serupa.

==

Dimuat di : https://kuasakata.com/read/berita/26868-ketua-lbh-apik-aisha-wedding-promosikan-pedofilia

0 Komentar

Beri Komentar

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *